HIZBUT TAHRIR (HT)

Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan pula lembaga ilmiah ataupun lembaga akademis, dan juga bukan lembaga social. Hizbut Tahrir menganut Islam sebagai ideology, dan politik sebagai aktivitasnya. Hizbut Tahrir yang didirikan di Lebanon oleh Syekh Taqiyudin An-Nabhani ini pertama kali masuk di Indonesia pada tahun 1972. Menurut Ismail Yusanto, Jubir hizbut Tahrir Indonesia (HTI), cikal bakal organisasi ini berasal dari Yordania.

Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, mmbebaskannya dari ide-ide, sistem perundang-undangan dan hukum kufur, serta membebaskan dari dominasi Negara-negara kafir dengan membangun daulah Islamiyah dan mengembalikan Islam ke kejayaan masa lampau. Hizbut Tahrir bertujuan mengembangkan kehidupan Islami dan mengembangkan dakwahIslamiyah kehidupan Islami dan mengembangkan dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Dalam mencapai maksud dan tujuannya, HTI mempercayai sistem kekhalifahan dengan seorang khalifah yang dibaiat oleh kaum Muslimin dan harus ditaati.

Dalam mencapai maksud dan tujuannya, HTI mengemban dakwah Islam dan mengubah kondisi masyarakat dari yang rusak menjadi ide-ide yang Islami, mengubah perasaan rusak menjadi perasaan yang islami, yaitu perasaan yang ridha terhadap apa yang diridhai Allah, marah dan benci terhadap apa yang dimarahi oleh Allah. Perjuangan Hizbut Tahrir juga berusaha agar akidah Islam menjadi dasar Negara. Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir bersifat politis dalam arti memperhatikan urusan-urusan masyarakat sesuai dengan hukum dan memecahkannya secara syar’I (hukum islam)

Kegiatan politik ini terdiri dari pembinaan terhadap tsaqafah (kebudayaan) Islam, membebaskan dari akidah yang rusak, pemikiran yang salah, persepsi yang keliru, pandangan-pandangan dari kaum yang kufur. Perjuangan politik juga meliputi penentangan terhadap kaum imperalis, mengontrol dan mengganti terhadap penguasa yang berkhianat terhadap umat islam. Seluruh kegiatan politik ini dilakukan tanpa menggunakan kekerasan, fisik dan senjata seperti yang dicontohkan Rasulullah.

Metode yang digunakan HTI adalah metode yang diemban oleh Rasulullah. HTI beranggapan bahwa umat Islam sekarang hidup dalam Darul Kufur yang serupa denga kehidupan di Mekkah (sebelum hijrah ke Madinah) pada zaman Nabi. Dalam melakukan dakwahnya, HTI mempunyai beberapa tahapan :

pertama, tahap pembinaan dan pengkaderan.

Kedua, tahapan berinteraksi denganumat agar ikut memikul kegiatan dakwahnya.

Ketiga, tahap pengambilan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara Menyeluruh.

Ideologi Hizbut Tahrir

Mengadopsi Ideologi Mu’tazilah

Pada masa pemerintahan Bani Umayah, lahir gerakan Revivalis yang dipelopori oeleh Ma’bad bin Khalid al-Juhani, penggagas ideology Qadariyah, yang berpijak pada pengingkaran Qadha’ dan Qadar Allah. Ideologi ini menjadi embrio lahirnya sekte Mu’tazilah.belakangan ini juga diikuti oleh Taqiyudin al-Nabhani, perintis Hizbut Tahrir. Dalam bukunya, al-syakhsiyyat al-Islamiyah, rujukan primer Hizbut Tahrir, Taqiyyudin al-Nabhani berkata :

Pernyataan al-Nabhani di atas memberikan dua kesimpulan, pertama, perbuatan ikhtiyari manusia tidak ada kaitannya dengan ketentuan Qadha’ Allah, dan yang kedua, hidayah dan kesesatan itu adalah perbuatan manusia sendiri dan bukan dari Allah. Demikian ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah dan akal sehat.

Dalam sekian banyak ayat berikut ini :

Beberapa ayat diatas menegaskan bahwa segala sesuatu itu diciptakan oleh Allah. Kata “segala sesuatu” dalam ayat tersebut mencakup segala apa yang ada di dunia ini seperti benda, sifat-sifat benda seperti gerakan dan diamnya manusia, serta perbuatan yang disengaja maupun yang terpaksa. Dalam realita yang ada, perbuatan ikhtiyari manusia lebih banyak daripada perbuatan non ikhtiyari atau yang terpaksa. Seandainya perbuatan ikhtiyari manusia itu adalah ciptaan manusia sendiri, tentu saja perbuatan yang diciptakan oleh manusia akan lebih banyak daripada perbuatan yang diciptakan oleh Allah.

Ayat-ayat diatas menegaskan bahwa hidayah dan kesesatan itu berasal dari Allah, bukan dari perbuatan manusia. Pernyataan al-Nabhanin di atas juga bertentangan dengan ayat berikut ini :

Ayat ini menegaskan bahwa perbuatan hati dan perbuatan lahiriah manusia termasuk perbuatan Allah. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Hizbut Tahrir yang berpandangan bahwa hidayah dan kesesatan adalah perbuatan manusia, dan bukan dari Allah. Demikianlah sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa perbuatan ikhtiyari manusia serta hidayah dan kesesatan merupakan perbuatan Allah dan terjadi atas dasar Qadha’ dan Qadar Allah

Dalam kedua ayat diatas, Allah menyebutkan shalat dan ibadah yang merupakan perbuatan ikhtiari manusia, lalu menyebutkan hidup dan mati yang bukan perbuatan ikhtiari manusia, kemudian Allah menjadikan semuanya sebagai makhluk Allah tiada sekutu-Nya. Ayat tersebut pada dasarnya menyampaikan pesan begini. “Katakanlah wahai Muhammad,”sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah makhluk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. “Namun Hizbut Tahrir menyelisih ayat tersebut dan mengikuti Mu’tazilah dengan mengatakan bahwa semua perbuatan ikhtiari manusia adalah ciptaan manusia sendiri dan dia yang memilikinya.

Pendekatan Ta’wil dan Ulama Salaf

  • Ibn Abbas

Terdapat banyak riwayat dari Ibn Abbas, bahwa ia melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat, antara lain adalah, Kursi [QS. 2: 255] di-ta’wil dengan ilmunya Allah, datangnya Tuhan [QS. 89: 22] di-ta’wil dengan penglihatan Allah, aydin 9beberapa tangan) [QS. 51: 47] di-ta’wil dengan Allah yang menunjukkan penduduk langit dan bumi, wajah Allah [QS. 55: 27] di-ta’wil dengan wujud dan Dzat Allah, dan saq (betis) [QS. 68: 42] di-ta’wil dengan kesusahan yang sangat berat.

  • Mujahid dan al-Suddi

Al-Imam Mujahid dan al-Suddi, dua pakar tafsir dari generasi tabi’in juga men-ta’wil lafal janb [QS. 39: 56] dengan perintah Allah.

  • Sufyan al-Tsauri dan Ibn al-Thabiri

Al-Imam Ibn Jarir al-Thabiri menafsirkan istiwa’ [QS. 2: 29] dengan memiliki dan menguasai, buka dalam artian bergerak dan berpindah. Sedangkan al-Tsauri men-ta’wilkan-nya dengan berkehendak menciptakan langit.

  • Malik bin Anas

Al-Imam Malik bin Anas, juga men-ta’wil turunnya Tuhan dalam hadits shahih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintah-Nya, bukan Tuhan dalam artian bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

  • Ahmad bin Hanbal

Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, melakukan ta’wil terhadap beberapa teks yang mutasyabihat, antara lain ayat tentang datangnya tuhan [QS. 89: 22] di-ta’wil dengan datangnya pahala dari Tuhan, bukan datang dalam arti bergerak dan berpindah.

  • Al-Hasan al-Bashri

Al-Imam al-Hasan al-Bashri, juga melakukan ta’wil terhadap teks tentang datangnya Tuhan [QS. 89: 22] dengan datangnya perintah dan kepastian Tuhan.

  • Al-Bukhari

Al-Imam al-Bukhari, pengarang Shahih al-Bukhari, juga melakukan ta’wil terhadap bebrapa teks yang mutasyabihat, antara lain teks tentang tertawanya Allah dalam sebuah hadits dita’wilnya dengan rahmat Allah, dan wajah Allah [QS.28: 88] dita’wilnya dengan kerajaan Allah dan amal yang dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah.

Data-data tersebut menujukkan bahwa ta’wil yang dilakukan oleh Ahlussunnah Wal-Jamaah merupakan pemahaman terhadap teks-teks mutasyabihat sesuai dengan pemahaman ulama salaf yang salih.

Qadar dan Ilmu Allah

Taqiyyuddin al-Nabhani berkata:

قَدْ وَرَدَ اْلإِيْمَانُ بِالْقَدَرِ فِيْ حَدِيْثِ جِبْرِيْلَ فِيْ بَعْضِ الرِّوَايَاتِ، فَقَدْ جَاءَ قَالَ: وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، إِلاَّ أَنَّهُ خَبَرُ آحَادٍ، عِلاَوَةً عَلىَ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْقَدَرِ هُنَا عِلْمُ اللهِ، وَلَيْسَ الْقَضَاءَ وَالْقَدَرَ الَّذِيْ هُوَ مَوْضِعُ خِلاَفٍ فِيْ فَهْمِهِ.

Telah datang keimanan dengan qadar dalam hadits Jibril menurut sebagian riwayat, di mana Nabi saw bersabda: “Dan kamu percaya dengan qadar, baik dan buruknya.” Hanya saja hadits ini tergolong hadits ahad (persumtif), di samping yang dimaksud dengan qadar di sini adalah ilmu Allah, dan bukan qadha’ dan qadar yang menjadi fokus perselisihan dalam memahaminya.

Pernyataan al-Nabhani di atas memberikan kesimpulan bahwa. Pertama, keimanan dengan qadar Allah hanya terdapat dalam hadits Jibril menurut sebagian riwayat. Kedua, hadits tentang qadar tergolong hadits ahad yang tidak meyakinkan. Ketiga, yang dimaksud dengan qadar dalam hadits Jibril tersebut adalah pengetahuan atau ilmu Allah, dan bukan qadha’ dan qadar yang menjadi fokus kajian kaum Muslimin.

Sudah barang tentu pernyataan al-Nabhani tersebut tidak benar. Pertama, asumsi bahwa keimanan terhadap qadar Allah hanya terdapat dalam hadits Jibril melalui sebagian riwayat adalah tidak benar. Keimanan dengan qadar Allah disamping terdapat dalam hadits Jibril, juga dijelaskan dalam sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Sementara hadits lain yang juga menjelaskan keimanan terhadap qadar juga sangat banyak.

Selain empat hadits di atas, terdapat pula hadits-hadits lain di antaranya adalah:

عَنْ أَبِي الأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ قَالَ، قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ: أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ مِنْ قَدَرِ مَا سَبَقَ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتْ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ، فَقُلْتُ: بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ، قَالَ فَقَالَ: أَفَلاَ يَكُونُ ظُلْمًا، قَالَ: فَفَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَزَعًا شَدِيدًا، وَقُلْتُ: كُلُّ شَيْءٍ خَلْقُ اللهِ وَمِلْكُ يَدِهِ، فَلاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ، وَهُمْ يُسْأَلُونَ، فَقَالَ لِي: يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلاَّ ِلأَحْزِرَ عَقْلَكَ، إِنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ مُزَيْنَةَ أَتَيَا رَسُولَ اللهِ J فَقَالاَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ مِنْ قَدَرٍ قَدْ سَبَقَ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتْ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ: لاَ بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ، وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا).

Abu al-Aswad al-Dili berkata: “Imran bin al-Hushain berkata kepadaku, “Bagaimana menurutmu, apakah sesuatu yang dikerjakan dan diusahakan oleh manusia sekarang merupakan sesuatu yang telah diputuskan sebelumnya oleh Allah dan sesuai dengan ketentuan yang telah berlalu bagi mereka, atau juga apa yang akan mereka hadapi dari hal-hal yang telah dibawa oleh nabi mereka dan hujjah telah berlaku pada mereka?” Aku menjawab: “Tentu, sesuatu yang telah diputuskan dan ditetapkan sebelumnya pada mereka.” Abu al-Aswad berkata; “Imran bertanya lagi: “Apakah hal itu bukan kezaliman dari Allah?”

Abu al-Aswad berkata: “Aku sangat terkejut dengan pernyataan Imran. Lalu aku berkata: “Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan milik-Nya. Jadi, Allah tidak akan ditanya atas perbuatan-Nya, melainkan manusia yang akan ditanya atas perbuatan mereka. Lalu Imran berkata kepadaku: “Semoga Allah mengasihimu. Sesungguhnya aku bertanya hanya karena ingin menguji kemampuan akalmu. Sesungguhnya dua orang laki-laki dari suku Muzainah mendatangi Rasulullah saw dan bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah apa yang dikerjakan dan diusahakan oleh manusia sekarang ini merupakan sesuatu yang telah diputuskan dan ketentuan yang telah berlalu bagi mereka, atau tentang apa yang akan mereka hadapi berupa sesuatu yang dibawa oleh nabi mereka dan hujjah telah berlaku atas mereka?” Nabi saw menjawab: “Tentu, sesuatu yang telah diputuskan dan ketetapan yang telah berlalu bagi mereka.” Pembenaran hal tersebut ada dalam firman Allah SWT: “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Sedangkan asumsi al-Nabhani bahwa hadits tentang keimanan terhadap qadha’ dan qadar Allah termasuk hadits ahad adalah tidak benar. Al-Nabhani juga berasumsi bahwa makna qadar dalam hadits Jibril, “Kamu beriman terhadap qadar Allah, baik dan buruknya”, adalah pengetahuan dan ilmu Allah. Sementara para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah mengartikan qadar dalam hadits tersebut dengan al-maqdur, yaitu sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah, bukan ilmu Allah.

Dengan demikian asumsi al-Nabhani yang menganggap bahwa qadar adalah pengetahuan dan ilmu Allah jelas bertentangan dengan hadist shahih diatas.

Kema’shuman Para Nabi

Menurut Ahlussunnah Wal-Jama’ah, setiap Muslim harus meyakini bahwa para nabi itu adalah orang yang ma’shum (terjaga dari perbuatan dosa), baik sesudah mereka diangkat menjadi nabi atau sebelumnya. Namun keyakinan ini berbeda dengan keyakinan Hizbut Tahrir. Dalam hal ini, al-Nabhani berkata:

إِلاَّ أَنَّ هَذِهِ الْعِصْمَةَ لِلأَنْبِيَاءِ وَالرُّسُلِ إِنَّمَا تَكُوْنُ بَعْدَ أَنْ يُصْبِحَ نَبِيًّا أَوْ رَسُوْلاً بِالْوَحْيِ إِلَيْهِ. أَمَّا قَبْلَ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ فَإِنَّهُ يَجُوْزُ عَلَيْهِمْ مَا يَجُوْزُ عَلىَ سَائِرِ الْبَشَرِ، ِلأَنَّ الْعِصْمَةَ هِيَ لِلنُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ.

Hanya saja keterjagaan para nabi dan rasul itu terjadi sesudah mereka menjadi nabi atau rasul dengan memperoleh wahyu. Adapun sebelum menjadi nabi dan rasul, maka sesungguhnya bagi mereka boleh terjadi perbuatan yang terjadi pada manusia biasa, karena keterjagaan itu hanya bagi kenabian dan kerasulan.

Sudah barang tentu pernyataan al-Nabhani di atas tidak benar. Para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah telah berpendapat bahwa para nabi itu harus memiliki sifat shidq (jujur), amanat (dipercaya) dan fathanah (cerdas).

Oleh karena itu, Allah SWT tidak akan memilih sebagai nabi atau rasul, kecuali terhadap orang yang selamat dari. Dengan berpijak terhadap pendapat al-Nabhani, bahwa para nabi boleh jadi melakukan perbuatan dosa apa saja sebelum menjadi nabi sebagaimana layaknya manusia biasa, Hizbut Tahrir berarti berpandangan bahwa derajat kenabian yang agung boleh disandang oleh orang yang pada masa lalunya sebagai pencuri, perampok, homo sex, pembohong, penipu, pecandu narkoba, pemabuk dan pernah melakukan kehinaan-kehinaan lainnya.

Melecehkan Mayoritas Kaum Muslimin

Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani berkata:

وَالْحَقِيْقَةُ أَنَّ رَأْيَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَرَأْيَ الْجَبَرِيَّةِ وَاحِدٌ، فَهُمْ جَبَرِيُّوْنَ. وَقَدْ أَخْفَقُوْا كُلَّ اْلإِخْفَاقِ فِيْ مَسْأَلَةِ الْكَسْبِ، فَلاَ هِيَ جَارِيَةٌ عَلىَ طَرِيْقِ الْعَقْلِ، إِذْ لَيْسَ عَلَيْهَا أَيُّ بُرْهَانٍ عَقْلِيٍّ، وَلاَ عَلىَ طَرِيْقِ النَّقْلِ، إِذْ لَيْسَ عَلَيْهَا أَيُّ دَلِيْلٍ مِنَ النُّصُوْصِ الشَّرْعِيَّةِ، وَإِنَّمَا هِيَ مُحَاوَلَةٌ مُخْفِقَةٌ لِلتَّوْفِيْقِ بَيْنَ رَأْيِ الْمُعْتَزِلَةِ وَرَأْيِ الْجَبَرِيَّةِ.

“Pada dasarnya pendapat Ahlussunnah dan pendapat Jabariyah itu sama. Jadi Ahlussunnah itu Jabariyah. Mereka telah gagal segagal-gagalnya dalam masalah kasb (perbuatan makhluk), sehingga masalah tersebut tidak mengikuti pendekatan rasio, karena tidak didasarkan oleh argument rasional sama sekali, dan tidak pula mengikuti pendekatan naqli karena tidak didasarkan atas dalil dari teks-teks syar’i sama sekali. Masalah kasb tersebut hanyalah usaha yang gagal untuk menggabungkan antara pendapat Mu’tazilah dan pendapat Jabariyah.”

Dalam bagian lain, al-Nabhani juga mengatakan:

الإِجْبَارُ هُوَ رَأْيُ الْجَبَرِيَّةِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ مَعَ اخْتِلاَفٍ بَيْنَهُمَا فِي التَّعَابِيْرِ وَاْلاِحْتِيَالِ عَلىَ اْلأَلْفَاظِ، وَاسْتَقَرَّ الْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ هَذَا الرَّأْيِ وَرَأْيِ الْمُعْتَزِلَةِ، وَحُوِّلُوْا عَنْ رَأْيِ الْقُرْآنِ، وَرَأْيِ الْحَدِيْثِ، وَمَا كَانَ يَفْهَمُهُ الصَّحَابَةُ مِنْهُمَا.

“Ijbar (keterpaksaan) adalah pendapat Jabariyah dan Ahlussunnah, hanya antara keduanya ada perbedaan dalam ungkapan dan memanipulasi kata-kata. Kaum Muslimin konsisten dengan pendapat ijbar ini dan pendapat Mu’tazilah. Mereka telah dipalingkan dari pendapat al-Qur’an, hadits dan pemahaman shahabat dari al-Qur’an dan hadits.”

Pernyataan al-Nabhani di atas mengantarkan pada beberapa kesimpulan. Pertama, pendapat Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Jabariyah itu pada dasarnya sama dalam masalah perbuatan manusia. Perbedaan antara keduanya hanya dalam ungkapan dan dalam manipulasi kata-kata. Kedua, Ahlussunnah Wal Jama’ah telah gagal dalam mengatasi problem perbuatan manusia melalui pendekatan teori kasb, sehingga terjebak dalam pendapat yang tidak didukung oleh dalil rasional maupun dalil naqli. Ketiga, kaum Muslimin sejak sekian lamanya telah berpaling dari al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat. Dan keempat, pernyataan tersebut memberikan kesan yang cukup kuat bahwa al-Nabhani dan Hizbut Tahrir telah keluar dari golongan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan mayoritas kaum Muslimin.

Sudah barang tentu pernyataan al-Nabhani di atas termasuk kesalahan fatal dalam soal ideologi dan pelecehan terhadap para ulama kaum Muslimin. Pertama, asumsi al-Nabhani bahwa pendapat Ahlussunnah Wal-Jama’ah sama dengan pendapat Jabariyah dalam masalah perbuatan manusia adalah tidak benar. Pendapat Ahlussunnah Wal Jama’ah berbeda dengan pendapat Jabariyah dalam menanggapi perbuatan menciptakan perbuatannya, dan Allah tidak berbuat apa-apa terkait dengan perbuatan hewan yang ada.

Kedua, asumsi al-Nabhani bahwa seluruh kaum Muslimin sejak sekian lama telah berpaling dari ajaran al-Qur’an, hadits dan pendapat para sahabat juga tidak benar dan bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits allah melindungi kaum muslimin dari bersepakat dan bersekongkol dalam kebatilan

Menurut al-Imam Fakhruddin al-Razi, ayat di atas memberikan pesan hukum bahwa keluar dari jalan orang-orang mukmin adalah haram. Setiap Muslim harus mengikuti jalan orang-orang mukmin. Sementara al-Nabhani bukan hanya keluar dari jalan orang-orang mukmin, justru ia melecehkan mereka dan menganggap bahwa orang-orang mukmin telah tersesat jalan dari ajaran al-Qur’an, hadits dan ajaran sahabat. Dalam hadits shahih, Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ J: إِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَةٍ، وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلىَ النَّارِ.

Ibn Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku, atas kesesatan. Pertolongan Allah selalu bersama jama’ah. Dan barangsiapa yang mengucilkan diri dari jama’ah, maka ia mengucilkan dirinya ke neraka.”

Hadits di atas menunjukkan pada beberapa pesan. Pertama, umat Islam tidak akan bersepakat pada kesesatan dan kekeliruan dalam menjalani kehidupan beragama. Kedua, Allah SWT akan menolong orang-orang yang mengikuti jalan mayoritas kaum Muslimin. Dan ketiga, orang yang mengucilkan dirinya (syudzudz) dari mayoritas kaum Muslimin, berarti telah mengucilkan dirinya ke neraka.

Sementara Taqiyyuddin al-Nabhani dan Hizbut Tahrir mengambil sikap sebaliknya. Pertama, Hizbut Tahrir berpendapat bahwa seluruh kaum Muslimin telah berpaling dari ajaran al-Qur’an, hadits dan pendapat sahabat. Kedua, Hizbut Tahrir tidak menjaga kebersamaan dengan cara mengikuti mayoritas kaum Muslimin. Dan ketiga, Hizbut Tahrir mengucilkan dirinya dari mayoritas kaum Muslimin. Dan ini menjadi bukti yang sangat kuat, bahwa Hizbut Tahrir telah keluar dari Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Pengingkaran Siksa Kubur

Di antara keyakinan mendasar setiap Muslim adalah menyakini adanya siksa kubur. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi dalam al-‘Aqidah al-Thahawiyyah berikut ini:

وَنُؤْمِنُ بِمَلَكِ الْمَوْتِ الْمُوَكَّلِ بِقَبْضِ أَرْوَاحِ الْعَالَمِيْنَ، وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ لِمَنْ كَانَ لَهُ أَهْلاً.

“Kami beriman kepada Malaikat maut yang diserahi mencabut roh semesta alam, dan beriman kepada siksa kubur bagi orang yang berhak menerimanya.”

Berdasarkan keyakinan ini, Rasulullah SAW menganjurkan agar umatnya selalu memohon kepada Allah SWT agar diselamatkan dari siksa kubur. Namun tidak demikian halnya dengan Hizbut Tahrir yang mengingkari adanya siksa kubur, mengingkari kebolehan tawassul dengan para nabi dan orang, salih serta peringatan maulid Nabi SAW. Pengingkaran Hizbut Tahrir terhadap adanya siksa kubur juga dijelaskan dalam buku al-Dausiyyah, kumpulan fatwa-fatwa Hizbut Tahrir ketika menjelaskan hadits yang menyebutkan tentang siksa kubur. Menurut buku tersebut, meyakini siksa kubur yang terdapat dalam hadits tersebut adalah haram, karena haditsnya berupa hadits ahad, akan tetapi boleh membenarkannya. Bahkan salah seorang tokoh Hizbut Tahrir, yaitu Syaikh Umar Bakri pernah mengatakan: “Aku mendorong kalian untuk mempercayai adanya siksa kubur dan Imam Mahdi, namun barang siapa yang beriman kepada hal tersebut, maka ia berdosa.”.

Sudah barang tentu pengingkaran Hizbut Tahrir terhadap adanya siksa kubur karena alasan haditsnya termasuk hadits ahad dan bukan mutawatir, adalah tidak benar. Karena disamping adanya siksa kubur merupakan keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, juga hadits-hadits yang menerangkan adanya siksa kubur sampai pada tingkat mutawatir, dan bukan hadits ahad sebagaimana asumsi Hizbut Tahrir. Dalam konteks ini al-Imam Hafizh al-Baihaqi berkata:

وَاْلأَخْبَارُ فِيْ عَذَابِ الْقَبْرِ كَثِيْرَةٌ، وَقَدْ أَفْرَدْنَا لَهَا كِتَاباً مُشْتَمِلاً عَلىَ مَا وَرَدَ فِيْهاَ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَاْلآثَارِ، وَقَدِ اسْتَعَاذَ مِنْهُ رَسُوْلُ اللهِ J، وَأَمَرَ أُمَّتَهُ بِاْلاِسْتِعَاذَةِ مِنْهُ … قَالَ الشَّافِعِيُّ : إِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ.

Hadits-hadits mengenai adanya siksa kubur banyak sekali. Kami telah menyendirikannya dalam satu kitab yang memuat dalil-dalil dari al-Qur’an, Sunnah dan atsar tentang siksa kubur. Rasulullah saw telah memohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur dan memerintahkan umatnya agar memohon perlindungan darinya… Al-Imam al-Syafi’i berkata:”Sesungguhnya siksa kubur itu benar.”

Mengkafirkan Kaum Muslimin

Islam mengajarkan untuk selalu bersikap mederat, netral dan tidak berlebih-lebihan dalam menyikapi suatu persoalan. Sikap seperti ini akan mengantaarkan sesorang untuk bisa bersikap bijak, adil, berimbang dan tidak memihak. Dengan suatu permasalahan yang berkaitan dengn agama sekalipun kita tidak diajarkan untuk bersikap etkten karena sikapp yang seperti itu akan menyebabkan seseorang salah dalam mengambil keputusan yang faatal serta merugikan diri sendiri. Nabi SAW bersabda:

Ibn Abbas berkata : “ Rasulullah SAW bersabda: “ Jauhilah sikap ektern (berlebih-lebihan) dalam agama, karaena sesungguhnya yang mencelakakan orang-orang sebelum kamu adalah sikap ektrem dalam beragama.”

Tegaknya khilafah Islamiyah, sebagai simbol pemersatu umat Islam dan lambang kejayaan kaum Muslimin pada masa silam, memang diwajibkan dalm agama apabila kita mampu melakukannya. Namun berlebih-lebihan dan terlalu bersemangat dalam menyikapi khilfah, juga kurang baik dan dapaat menjerumuskan kita pada sikap yan gkeliru. Tidak sedikit dikap ektrem seseorang justru menjerumuskannya kedalam jurang kesalahan yang sangat fatal.

(dari beberapa sumber refrensi)

KETAKUTAN YANG DATANG TERLAMBAT

“Kita terlalu royal dengan perkataan kafir, gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir, pantaloon, dasi dan topi kafir, radio dan kedokteran kafir, pengetahuan barat kafir, sendok dan garfu kafir, bergaul dengan bangsa yang bukan islam-pun kafir”. Geram Bung Karno ketika membicarakan kelompok Islam yang dia namakan sebagai ….
.
Ir. Soekarno
ISLAM SONTOLOYO
.
Dan Bung Karno menuliskan itu 80 tahun yang lalu, tepatnya pada 1936 dalam surat menyuratnya bersama A. Hassan. Itu berarti, gerakan takfiri, telah dikenal sejak era Bung Karno masih sebagai intelektual muda.

Tetapi apakah hanya garis Fundamentalis Islam yang dikritik oleh Bung Karno ? Tidak. Dia juga mengkritik Islam yang dipenuhi takhayyul, khurafat, terlalu kuat berpegang pada fiqh, selalu membanggakan masa lalu, dan menjauh dari perkembangan pengetahuan modern.

Sukarno_islam_sontoloyo

Penistaan Terhadap Agama dan Tekanan Massa

Terhadap kasus penistaan terhadap agama yang terjadi di Indonesia selalu di barengi oleh tekanan massa dalam bentuk aksi, dan kemudian ada tindakan hukum.

Entah apa yang menjadikan kondisi tersebut, seakan-akan hukum di Indonesia diatur dan bisa di paksakan oleh kelompok atau kumpulan orang, hal tersebut terbukti beberapa peristiwa penistaan agama yang mendapat tekanan massa selalu berakhir dengan hukuman pelakunya, dimulai dari kasus HB. Jassin, Arswendo, dan yang paling baru kasus Ahok. Namun ada kasus penistaan agama di Indonesia yang dilaporkan ke Polisi tanpa ada tekanan massa, akhirnya termaafkan. Misal kasus Teguh Santosa, pemimpin Rakyat Merdeka online pada tahun 2006 dan harian The Jakarta Post pada 2014, Teguh dilaporkan ke polisi karena menerbitkan karikatur Nabi Muhammad seperti yang dinaikkan koran di Denmark, Jylland Posten dan kasus pemimpin redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodingrat, diadukan karena membuat karikatur bergambar kelompok ISIS dengan lambang tengkorak dan ada tulisan Allah.

“Kasus Teguh Santosa misalnya, ada kalangan yang meributkan, menuduh menyebarkan kartun. Tapi tak ada desakan massa, dia diajukan ke pengadilan tapi divonis bebas.”

Berbeda dengan kasus penodaan agama terkait Ahok merupakan “preseden buruk” bagi demokrasi, dengan putusan hukuman atas Basuki Tjahaya Purnama dalam kasus dugaan penodaan agama adalah preseden buruk bagi promosi pemajuan kebebasan beragama/berkeyakinan di Indonesia karena penegakan hukum atas dugaan penodaan agama tidak sepenuhnya dijalankan dengan mematuhi prinsip due process of law (proses hukum)”. Penggunaan Pasal 156a KUHP “di tengah kontestasi politik Pilkada DKI, menegaskan bahwa Basuki terjebak pada praktik politisasi identitas yang didesain oleh kelompok-kelompok tertentu.” Semoga menjadi evaluasi sistem hukum di Indonesia yang terkesan tunduk terhadap tekanan massa.

Misteri Leluhur Bangsa Jawa

Kanzunqalam's Blog


Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda , yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.

wayang1Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan

Lihat pos aslinya 713 kata lagi

ANTI KOMUNIS

Tentang komunisto-phobia:

Beberapa tahun sesudah Proklamasi Kemerdekaan kita, maka terjadilah di luar negeri, – kemudian juga meniup di angkasa kita – , apa yang dinamakan “perang dingin”. Perang dingin ini sangat memuncak pada kira-kira tahun 1950, malah hampir-hampir saja memanas menjadi perang panas. Ia amat menghambat pertumbuhan-pertumbuhan progresif di berbagai negara. Tadinya, segera sesudah selesainya Perang Dunia yang ke-II, aliran-aliran progresif di mana-mana mulailah berjalan pesat. Tetapi pada kira-kira tahun 1950, sebagai salah satu penjelmaan daripada perang dingin yang menghebat itu, aliran-aliran progresif mudah sekali dicap “Komunis”. Segala apa saja yang menuju kepada angan-angan baru dicap “Komunis”. Anti kolonialisme – Komunis. Anti exploitation de l’homme par l’homme – Komunis. Anti feodalisme-Komunis. Anti kompromis – Komunis. Konsekwen revolusioner – Komunis. Ini banjak sekali mempengaruhi fikiran orang-orang, terutama sekali fikirannya orang-orang yang memang jiwanya kintel. Dan inipun terus dipergunakun (diambil manfaatnya) oleh orang-orang Indonesia yang memang jiwanya jiwa kapitalis, feodalis, federalis, kompromis, blandis, dan lain-lain sebagainya. (Pidato Sukarno pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960)

Dus: Orang-orang yang jiwanya negatif menjadilah menderita penyakit “takut kalau-kalau disebut kiri”, “takut kalau-kalau disebut Komunis”. Kiri-phobi dan komunisto-phobi membuat mereka menjadi konservatif dan reaksioner dalam soal-soal politik dan soal-soal pembangunan sosial-ekonomis. (Pidato Sukarno pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1960)

ESENSI PANCASILA

Pancasila Itu Kiri

Oleh karena itu maka saya berkata tempo hari, Pancasila adalah kiri. Oleh karena apa? Terutama sekali oleh karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasila adalah anti exploitation de I’homme par I’homme (baca: penghisapan manusia atas manusia). Pancasila adalah anti exploitation de nation par nation (penindasan bangsa atas bangsa). Karena itulah Pancasila kiri. (Pidato Sukarno di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, di Istana Bogor, 6 November 1965). Perkataan (maksudnya Pancasila) dipakai sebetulnya untuk men-demonstreer anti kepada Kom. Padahal Pancasila itu sebetulnya tidak anti Kom. Kom dalam arti ideologi sosial untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat sosialistis. (Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965). Pendek kata, kalau saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri. Ya, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri. Kalau yang cuma mulutnya saja progresif revolusioner, tetapi di dalam hatinya sebetulnya kanan. (Amanat Presiden Sukarno di hadapan anggota Golongan Karya Nasional, di Istana Bogor, 11 Desember 1965)

sumber : Pidato Bung Karno

OPERASI INTELIJEN ATAS NAMA AGAMA

Tahukah Anda kenapa Suriah hancur? Karena Presiden Suriah Bashar Assad menolak proyek pompa gas menuju Qatar, Arab Saudi, Yordania dan Turki yang dapat disedot oleh Eropa secara langsung. Arab Saudi dan Turki adalah kroni Amerika yang pro Israel. Negara-negara itulah yang kemudian menciptakan kekacauan, pemberontakan, terorisme dan instabilitas politik di Suriah dengan isu SARA melalui kucuran dana, senjata, buku agama, fatwa, ulama dan ideologi Wahabi radikalnya.

Amerika berkepentingan untuk menjatuhkan Suriah yang pro Iran dan pro Rusia serta menguasai sumber daya minyaknya. Amerika juga berkepentingan untuk melemahkan Suriah yang konsisten menjadi ancaman sekutunya yaitu Israel di kawasan Teluk. Bersama Arab Saudi, Turki dan berbagai media mainstream internasional mereka melancarkan propaganda dan penyesatan opini publik yang mengaitkan isu ini sebagai perang sektarian antara Sunni dan Syiah.

Akhirnya ribuan mujahid Wahabi dari seluruh dunia berkumpul di Suriah dan mengakibatkan Perang Saudara yang meluluhlantakkan Suriah, negara demokratis dan pluralis yang sebelumnya secara ekonomi dan politik termasuk paling mapan di kawasan Timur Tengah selama beberapa dekade. Inilah yang disebut sebagai strategi Proxy War (Perang Boneka) yang mungkin juga sedang dijalankan di Indonesia saat ini.

Ada video rekaman saat Hillary Clinton mengucapkan “mari kita manfaatkan Wahabi” di sidang parlemen Amerika. (ada kemungkinan Hillary kalah dalam Pilpres Amerika karena email pribadi dia diretas oleh Rusia yang pro Asaad dan disebarkan ke seluruh amerika bahwa Hillary menerima kucuran dana dari Arab ke yayasan Clinton yang mengindikasikan keterlibatannya dalam pembentukan teroris ISIS). Banyak juga bukti keterlibatan Arab Saudi, Turki dan Amerika dalam perang Suriah ini. Ratusan mujahid Indonesia juga berangkat ke Suriah karena isu perang Sunni-Syiah yang dihembuskan oleh fatwa dan ideologi Wahabi yang disponsori oleh Turki dan Arab Saudi yang merupakan kroni Amerika dalam “perang minyak yang mengatasnamakan agama” ini.

Dari Suriah mari kita berkaca pada kejadian sejarah di Indonesia. Pada Agustus 1959 Direktur Freeport Sulphur Forbes Wilson dari Amerika bertemu dengan Jan van Gruisen, managing director dari East Borneo Company dari Belanda yang menceritakan bahwa dirinya baru saja menemukan sebuah gunung emas di Papua. Freeport pun memutuskan untuk meneken kontrak eksplorasi dengan East Borneo Company pada 1 Februari 1960.

Tapi perjanjian kerja sama antara East Borneo Company Belanda dan Freeport Amerika menjadi mentah karena Pemerintahan AS yang saat itu dikuasai John F Kennedy (JFK) justru membela Indonesia, dan mengancam akan menghentikan bantuan Marshall Plan kepada Belanda jika tetap ngotot mempertahankan Irian Barat. Tapi kemudian Kennedy mati ditembak pada 22 November 1963.

Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak pertambangan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Amerika sebagai salah satu dari investor pertambangan terbesar di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Selama beberapa dekade, CIA telah terlibat dalam berbagai upaya untuk membunuh dan menjatuhkan Sukarno. Sudarto Danusubroto, pengawal pribadi dan ajudan Sukarno mengatakan ada 7 kali percobaan pembunuhan terhadap Soekarno dan hal ini dibenarkan oleh eks Wakil Komandan Tjakrabirawa, Kolonel Maulwi Saelan. Usaha kudeta pertama pada tahun 1958 gagal mengguncangkan pemerintahan Sukarno. Tetapi pada tahun 1965, mereka akhirnya berhasil menyingkirkan Sukarno.

Peran penting Suharto menempatkannya di kursi kepresidenan pada tahun 1967. Pada tahun 1998, Pemerintah Amerika mengklasifikasikan sejumlah dokumen yang menggambarkan berbagai operasi rahasia CIA di Indonesia. Kesuksesan dari strategi CIA di Indonesia digunakan lagi untuk menggulingkan Presiden Cile, Salvador Allende melalui kudeta tentara pimpinan Jendral Agusto Pinochet dengan nama sandi ” Jakarta Operation.”

Pasca Suharto berkuasa perjanjian komposisi saham PT. Freeport Indonesia adalah 81,28% dimiliki oleh Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. (AS), 9,36% milik Pemerintah Indonesia dan 9,36% dimiliki oleh PT. Indocopper Investama milik Bob Hassan, kroni Soeharto (namun kini dikuasai Bakrie, jadi jangan heran jika TV One milik Bakrie dulu selalu anti Jokowi). Sejak pertama penambangan sampai saat ini, PT. Freeport konon sudah menghasilkan sebanyak 724,7 juta ton emas (angka ini mungkin bisa ditelusuri lagi kebenarannya, yang jelas ada banyak sekali) dari bumi Indonesia yang hasilnya sebagian besar dikuasai oleh Amerika dan pejabat korup Indonesia.

Freeport McMoran adalah perusahaan tambang emas terbesar di dunia. Dan tambang Freeport di Papua adalah tambang emas terbesar di dunia yang menghasilkan 225 ribu ton biji emas setiap harinya selama 42 tahun. Tapi hampir 90% sahamnya dimiliki oleh Amerika sedang pemerintah dan rakyat Indonesia hanya menikmati bagian yang sangat kecil saja. Amerika kaya raya dari hasil bumi Indonesia. Yang unik direktur Freeport justru dijabat oleh mantan pejabat intelijen negara, bukan insinyur pertambangan sedang salah satu pengacaranya justru adalah petinggi FPI. Aneh bukan?

Tapi semenjak Jokowi berkuasa, para pejabat korup dan Amerika kalang kabut karena kenikmatan dan pundi-pundi uang mereka makin terancam. Selama ini semua negosiasi berhasil dimenangkan oleh Freeport. Presiden sebelumnya tidak ada yang berani menaikkan bergaining apalagi mengubah dari Kontrak Karya menjadi Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Kali ini, dengan sikap Jokowi yang berani dan koepig (keras kepala) Freeport tak berdaya dan akan memberikan divestasi saham 51 persen kepada pemerintah. Akhirnya Freeport kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Amerika tentu tidak tinggal diam dengan kerugiannya yang luar biasa ini. Pokoknya Jokowi harus hancur dan hal ini bisa dilakukan melalui rekayasa isu SARA untuk menggoncang pemerintahan sebagaimana yang selama ini telah menghasilkan banyak kesuksesan di Timur Tengah dalam “perang perebutan ladang minyak”nya. Dan Amerika punya sekutu yang sangat menguntungkan yaitu Arab Saudi dan Turki yang memiliki jaringan dana, fatwa dan ulama untuk mengimport ideologi wahabi radikal ke negeri ini yang akan menciptakan konflik dan instabilitas dalam negeri.

Menjatuhkan Ahok melalui isu SARA adalah langkah awal untuk bisa menjatuhkan Jokowi dan kemudian menguasai Indonesia. Setelah isu Syiah gagal diterapkan kini mereka ganti menghembuskan isu anti Cina dan anti PKI persis seperti strategi dan propaganda CIA tahun 1965 lalu dengan aktor politik Suharto dengan TNInya.

Ikhwanul muslimin (di Indonesia menjadi PKS) dan Hizbut Tahrir (di Indonesia menjadi HTI) adalah kelompok-kelompok yang turutì memprovokasi kehancuran Suriah melalui demo dan isu SARA yang mereka hembuskan. Jadi jangan heran jika huru hara politik di negeri ini juga melibatkan kelompok yang sama. Saat Indonesia terpecah karena perang saudara atas dasar SARA maka saat itulah kekuatan asing akan masuk dan leluasa menguasai sumber-sumber daya alam Indonesia yang kaya raya ini.

Orang bodoh akan selalu dimanfaatkan dan dipermainkan oleh orang serakah yang cerdas dan culas. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri ini dimana sekumpulan orang bodoh yang anti Amerika secara tanpa sadar justru sedang diperalat dan dijadikan pion untuk membantu Amerika mendapatkan tujuan politik dan ekonominya. Ini adalah masalah politik, duit dan kekuasaan dengan menjual kedok agama, bukan masalah iman, Tuhan dan sorga neraka..

PELAKU USAHA HARUS MEMENUHI HAK PEKERJA

Larangan Pengusaha Bertindak Diskriminatif terhadap Pekerjanya

Berkaitan dengan hal ini, pada dasarnya, setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Pengusaha harus memberikan hak dan kewajiban pekerja/buruh tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, warna kulit, dan aliran politik. Artinya, upah yang merupakan hak pekerja, tidak boleh diberikan secara diskriminatif, terlebih tanpa alasan yang jelas. Dengan kata lain, pembayaran upah tidak di bawah upah minimum harus diberlakukan kepada seluruh karyawan di perusahaan itu tanpa diskriminatif.

 

Sanksi Bagi Pengusaha yang Bertindak Diskriminatif

Jika perusahaan melakukan tindakan diskriminasi terhadap pekerjanya, maka menteri atau pejabat yang ditunjuk mengenakan sanksi administratif kepada pengusaha. Adapun sanksi adminisitratif tersebut berupa:

  1. teguran;
  2. peringatan tertulis;
  3. pembatasan kegiatan usaha;
  4. pembekuan kegiatan usaha;
  5. pembatalan persetujuan;
  6. pembatalan pendaftaran;
  7. penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi;
  8. pencabutan ijin.

 

imagesHukumnya Pengusaha yang Memberikan Upah di Bawah Minimum

Sedangkan, apabila pengusaha tetap memberikan upah di bawah upah minimum, sanksi yang dikenakan terhadap pengusaha dapat kita lihat dari bunyi Pasal 185 UU Ketenagakerjaan:

 

(1)  Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).

(2)  Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.

Suku Samin dan Ajarannya

Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-masing bermukim di perbatasan kedua wilayah. Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka disebut wong sikep, karena kata samin bagi mereka mengandung makna negatif. Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pokok ajaran Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang.